Travis Barker Drum Solo Montreal Canada
| Travis Barker | |
|---|---|
| Latar belakang | |
| Dilahirkan dengan nama | Travis London Barker |
| Asal | Fontana, California |
| Genre | Pop-Punk hip-Hop punk Rock |
| Instrumen | Drum, Keyboard |
| Tahun aktif | 1994-sekarang |
| Dipengaruhi oleh | The Aquabats Blink 182 Box Car Racer Expensive Taste The Transplants The Suicide Machine +44 |
Travis London Barker (lahir 14 November 1975; umur 35 tahun) adalah pemain drum asal Amerika Serikat. Namanya terkenal setelah menjadi pemain drum untuk grup Pop-Punk Blink 182, tapi sekarang dia bermain untuk +44. Barker juga bermain untuk beberapa grup musik seperti Box Car Racer, The Transplants, Expensive Taste, The Suicide Machines, dan The Aquabats.
| |
Gaya
Di seluruh badan Travis dipenuhi tato. Pertama kali Travis membuat tato ketika berusia umur 17 tahun. Tato tersebut bertuliskan "BONES" yang tak lain adalah namanya waktu kecil.
Latar Belakang
Setelah bubar dari band pertamanya, Feeble, Barker mulai bermain untuk The Aquabats pada tahun 1996 dan dikenal sebagai The Baron Von Tito. Ia merekam satu album dengan mereka, The Fury dari Aquabats!, Pada tahun 1997. Lalu dia mengundurkan diri dari Aquabats dan ia bergabung dengan band pop punk yaitu Blink-182 pada tahun 1998. Barker menjadi terkenal karena rambut mohawk dan kecenderungannya bertelanjang dada pada saat maen drum, dan mengungkapkan banyak tato. Barker telah sejak membuktikan dirinya sebagai drummer yang sangat sukses, memproduksi dan membuat "remix" drum dari berbagai genre musik seperti hip-hop, rock alternatif, pop dan country. Dia telah memperoleh penerimaan yang signifikan dalam komunitas hip-hop pada khususnya dan sering bekerjasama dengan musisi untuk menyusun "rock-remix" diwarnai lagu-lagu mereka.
Awal Hidupnya
Travis Barker lahir dikeluarga Randy dan Gloria Barker di Fontana, California, yang terletak di San Bernardino County. Barker tumbuh di daerah yang tinggi kejahatannya, di mana ayahnya bekerja sebagai mekanik dan ibunya sebagai babysister. Barker mulai bermain drum pada usia 4 meskipun ia tidak menjadi serius tentang hal itu sampai sekitar usia 12. Barker belajar dengan Allen Carter, seorang pemain perkusi dan jazz mapan dan dihormati sutradara, penulis / pengarang dan profesor dan terkenal karena semua jenis musik yang berbeda.
Ibunya, yang telah didiagnosa menderita kanker tiga bulan sebelumnya, meninggal sehari sebelum ia mulai sekolah menengah. Dia mengatakan kepada Travis untuk tetap bermain musik dan untuk mengikuti impiannya. Barker bersekolah Fontana High School, dimana ia bermain di ansambel jazz dan marching band. Ia mendapatkan banyak pengalaman tampil di kompetisi regional dan festival. Selama tahun senior, ia mengikuti tryouts drum korps untuk tur dengan sebuah band rock. Barker memperoleh banyak pengalaman melakukan dengan beberapa band rock awalnya. Setelah Barker lulus dari sekolah tinggi pada tahun 1993 ia menjadi anggota The Aquabats. Dia dijuluki Baron Von Tito. Barker tidak kembali ke drum korps untuk anak seusianya. Dia keluar tahun 1986, Dia mengikuti audisi dengan Blue Devils Drum dan Bugle Corps, tapi akhirnya tidak masuk
Instrumen pertama Travis adalah terompet, bukan drum. Sebagai seorang remaja ia bermain dalam marching band dan beberapa ayunan, dan penggemar jazz. Dia mulai bermain drum dalam sebuah band lokal bernama Riverside sebelum 1998
Blink 182
Pada tanggal 19 September 2008, Barker terluka ketika Learjet 60 dimana dia ada di dalamnya jatuh di luar Columbia, South Carolina jet itu menuju Van Nuys, California. Menurut Federal Aviation Administration, pada saat pesawat meninggalkan bandara, air traffic controllers melihat percikan api yang berasal dari pesawat. Pesawat keluar dari landasan pacu, lalu menabrak pagar, melewati jalan di dekatnya, dan menabrak sebuah tanggul dan terbakar. Barker sebelumnya tampil di sebuah acara dengan penyanyi Jane's Addiction Perry Farrell, Gavin DeGraw dan DJ AM. Barker dan DJ AM dibawa ke Joseph M. Still Burn Center di Augusta, Georgia, di mana mereka berdua berada dalam kondisi kritis. Empat orang lainnya tewas dalam kecelakaan, tiga laki-laki dan satu perempuan. Lalu setelah di otopsi , tercatat dua anggota crewnya meninggal , dan dua orang penumpang, termasuk Chris Baker, asisten pribadi Barker yang sering muncul di Meet The Barkers, dan Charles Still, penjaga keamanan Barker. Pada tanggal 21 September. Dr Fred Mullins, dari Burn Center melaporkan bahwa luka bakar Barker di tubuhnya lebih parah dan bagian bawah tubuhnya. Dan diharapkan untuk sepenuhnya pulih dalam kurun waktu satu tahun. Barker berhenti menjadi vegetarian dan pada saat itu juga mulai makan daging untuk meningkatkan asupan protein untuk mempercepat penyembuhan luka bakar itu.
Selamatlah Barker insiden itu, hingga ia dapat kembali ke studio rekaman pada bulan November 2008. Pada wawancara televisi sejak kecelakaan itu, ia berkata kepada MTV, "Saya sudah bermain drum lagi, dan saya sudah kembali di studio". Mengungkapkan kata kiasan dengan menyatakan bahwa kembali ke studio "itu seperti naik sepeda. Sangat menarik untuk mengetahui saya berdaging. Merasa lebih baik ... saya masih bisa membuat nada di drum. Semua merasa bersyukur sekali bisa bermain drum kembali.
Barker menuntut pemilik pesawat, Goodyear Tire dan Rubber Co, dan perusahaan suku cadang pesawat pada tanggal 21 November 2008. Ia meminta ganti rugi lebih dari $ 25.000 untuk rasa sakit,penderitaan,cacat,kehilangan pendapatan,iaya medis, dan hukum. Gugatan itu mengklaim pilot Learjet yang berkata "tidak benar jika saya tidak terlatih dan seharusnya kita mati jika terus turun landasan." Kepala dari pengawal Barker, Charles Monroe Still Jr, yang tewas dalam kecelakaan itu, ikut digugatkan . Barker menggugat perusahaan untuk ganti rugi kerusakan, biaya pemakaman, dan biaya kehilangan pendapatan. Kasus pengadilan telah selsai pada bulan Desember 2009, dengan pengacara William L. Robinson, yang mewakili beberapa perusahaan, dan mengatakan hal penyelesaian kasus tersebut bersifat rahasia.
Pada tanggal 1 Desember 2008, TV Guide melaporkan bahwa Barker akan membuat penampilan perdananya dengan DJ AM (Adam Goldstein) setelah selamat dari kecelakaan pesawat. Duet kan dilakukan di New Year's Nation's, New Year's Eve Party di The Wiltern. Mereka melakukan streaming. Dipublikasikan di Internet melalui situs resmi New Year's Nation's, dan disiarkan di pesta New Year's Nation's di seluruh Amerika Serikat. Dari pertunjukan tersebut, Barker mengatakan kepada pers, "Saya siap untuk kembali di atas panggung dengan AM dan terus menghibur orang-orang. Saya sangat bersemangat untuk merayakan Tahun Baru di kampung saya LA. DJ AM meninggal pada tanggal 28 Agustus 2009 akibat overdosis narkoba di apartemennya di New York.
Keluarga
Travis sudah menikah dua kali. Travis menikah dengan Melissa Kenedy pada 22 September 2001 tapi pasangan ini hanya bertahan selama 11 bulan. Pasangan ini bercerai pada tanggal 6 Agustus 2002. Pada tanggal 30 Oktober 2004 Travis menikah kembali dengan Miss USA 1996 Shanna Moakler. Travis dan Moakler mempunyai 2 orang anak yaitu Landon Asher dan Alabama Luella, serta 1 Moakler Atiana Cecilia de la Hoya anak dari pacar istrinya dengan petinju Oscar De La Hoya. Setelah hampir 2 tahun bersama Travis pun menuntut minta cerai.
Underground, Musik Apa Itu?
Terlebih dengan kejadian di Gedung AACC Bandung, konser musik undergriund yang berujung maut, semakin mengentalkan citra negatif.
Padahal sebetulnya tak ada hubungan musik underground dengan kekerasan, apalagi menjadi penyebab tragedi maut di Gedung AACC.
Lagu bagaimana sebetulnya perjalanan musik yang dinilai radikal ekstrem karena lirik-lirinya yang memang jauh dari kesan indah ini?
“Underground tumbuh di Indonesia pada awal-awal era 90-an. Dulu, aliran ini identik dengan anak-anak urakan,” kata Ken-Ken, mantan vokalis grup band underground di Jakarta, Minggu (10/2).
Awal-awal tumbuh di kalangan anak-anak urakan itu membuat underground dikenal sebagai aliran ekstrem. Predikat itu semakin kental ketika sejumlah konser underground waktu itu kerap melahirkan kericuhan. Ken-Ken mengatakan, biasanya dalam konser musik underground muncul subgender yang mempunyai massa pendukung dan subgender yang lainnya juga massa pendukung.
“Yang dari punk punya pendukung sendiri, yang dari metal juga punya sendiri. Awalnya hanya ejek-ejekan, kemudian ribut di dalam. Hal seperti itu kerap terjadi, terutama di kota-kota kecil,” lanjut pria kelahiran Surabaya ini.
Meski Kenken mengatakan kericuhan memang ada dalam sejarah konser musik underground, vokalis musik Sing Ken-ken ini menyebut, tidak pernah ada yang separah seperti terjadi di Bandung Sabtu (9/2) malam. Apalagi, kata dia, para peminat underground sekarang ini sudah lebih dewasa, lebih cerdas dalam menyalurkan idealisme musik mereka.
“Aku nggak pernah mencatat kericuhan yang pernah terjadi. Tapi, nggak pernah separah ini,,” sambung Ken-ken yang mengaku meski sudah tidak aktif, tapi masih kerap nongol di konser underground.
Penyanyi jazz yang juga kerap hadir dalam konser musik underground, Syaharani
juga menyebut, dibanding era 90-an, pemusik underground sekarang jauh lebih matang. Rani, panggilannya, mengaku tidak sepakat dengan label radikal ekstrem yang diberikan kepada para pemusik underground. Ia mengatakan, sekarang, peminat underground tingkat pendidikan dan tingkat apresiasi musiknya sudah lain.
“Mereka memang punya idealisme sendiri dan mereka ingin membuktikan bahwa idealisme mereka tidak kalah juga dengan industri musik. Dan menurut saya itu perkembangan cara berpikir dan cara berbisnis anak-anak muda. Mereka ingin punya assosiate sendiri. Ada banyak hal positif kok pada komunitas underground ini,” kata Rani.
Syaharani tidak mau menyebut peristiwa nahas di Bandung distimuli oleh aliran musik keras yang diusung oleh grup Beside yang beraliran punk. Ia lebih senang membahas prosedur pengamanan sebuah konser. Sebab, kata dia, tidak ada bedanya orang-orang yang underground dan bukan underground, mereka sama-sama manusia.
“Tidak ada masalah, apa jenis musiknya karena valuenya manusia sama lho. Namanya musibah bisa datang tanpa pilih-pilih jenis aliran musik. Penyelenggara harus benar-benar memperhatikan masalah-masalah keamanan. Kalau yang di Bandung ini kan masalah di luar content art nya” kata Rani yang mengaku gandrung dengan musik underground sejak 2001 .
Sejarah musik underground di indonesia
DI BANDUNG sekitar awal 1994 terdapat studio musik legendaris yang menjadi cikal bakal scene rock underground di sana. Namanya Studio Reverse yang terletak di daerah Sukasenang. Pembentukan studio ini digagas oleh Richard Mutter (saat itu drummer PAS) dan Helvi. Ketika semakin berkembang Reverse lantas melebarkan sayap bisnisnya dengan membuka distro (akronim dari distribution) yang menjual CD, kaset, poster, t-shirt, serta berbagai aksesoris import lainnya.Selain distro, Richard juga sempat membentuk label independen 40.1.24 yang rilisan pertamanya di tahun 1997 adalah kompilasi CD yang bertitel "Masaindahbangetsekalipisan." Band-band indie yang ikut serta di kompilasi ini antara lain adalah Burger Kill, Puppen, Papi, Rotten To The Core, Full of Hate dan Waiting Room, sebagai satu- satunya band asal Jakarta.
Band-band yang sempat dibesarkan oleh komunitas Reverse ini antara lain PAS dan Puppen. PAS sendiri di tahun 1993 menorehkan sejarah sebagai band Indonesia yang pertama kali merilis album secara independen. Mini album mereka yang bertitel "Four Through The S.A.P" ludes terjual 5000 kaset dalam waktu yang cukup singkat. Mastermind yang melahirkan ide merilis album PAS secara independen tersebut adalah (alm) Samuel Marudut. Ia adalah Music Director Radio GMR, sebuah stasiun radio rock pertama di Indonesia yang kerap memutar demo-demo rekaman band-band rock amatir asal Bandung, Jakarta dan sekitarnya.
Tragisnya, di awal 1995 Marudut ditemukan tewas tak bernyawa di kediaman Krisna Sucker Head di Jakarta. Yang mengejutkan, kematiannya ini, menurut Krisna, diiringi lagu The End dari album Best of The Doors yang diputarnya pada tape di kamar Krisna. Sementara itu Puppen yang dibentuk pada tahun 1992 adalah salah satu pionir hardcore lokal yang hingga akhir hayatnya di tahun 2002 sempat merilis tiga album yaitu, Not A Pup E.P. (1995), MK II (1998) dan Puppen s/t (2000). Kemudian menyusul Pure Saturday dengan albumnya yang self-titled. Album ini kemudian dibantu promosinya oleh Majalah Hai. Kubik juga mengalami hal yang sama, dengan cara bonus kaset 3 lagu sebelum rilis albumnya.
Agak ke timur, masih di Bandung juga, kita akan menemukan sebuah komunitas yang menjadi episentrum underground metal di sana, komunitas Ujung Berung. Dulunya di daerah ini sempat berdiri Studio Palapa yang banyak berjasa membesarkan band-band underground cadas macam Jasad, Forgotten, Sacrilegious, Sonic Torment, Morbus Corpse, Tympanic Membrane, Infamy, Burger Kill dan sebagainya. Di sinilah kemudian pada awal 1995 terbit fanzine musik pertama di Indonesia yang bernama Revograms Zine. Editornya Dinan, adalah vokalis band Sonic Torment yang memiliki single unik berjudul "Golok Berbicara". Revograms Zine tercatat sempat tiga kali terbit dan kesemua materi isinya membahas band-band metal/hardcore lokal maupun internasional.
Kemudian taklama kemudian fanzine indie seperti Swirl, Tigabelas, Membakar Batas dan yang lainnya ikut meramaikan media indie. Ripple dan Trolley muncul sebagai majalah yang membahas kecenderungan subkultur Bandung dan jug lifestylenya. Trolley bangkrut tahun 2002, sementara Ripple berubah dari pocket magazine ke format majalah standar. Sementara fanzine yang umumnya fotokopian hingga kini masih terus eksis.
Serunya di Bandung tak hanya musik ekstrim yang maju tapi juga scene indie popnya. Sejak Pure Saturday muncul, berbagai band indie pop atau alternatif, seperti Cherry Bombshell, Sieve, Nasi Putih hingga yang terkini seperti The Milo, Mocca, Homogenic. Begitu pula scene ska yang sebenarnya sudah ada jauh sebelum trend ska besar. Band seperti Noin Bullet dan Agent Skins sudah lama mengusung genre musik ini.
Siapapun yang pernah menyaksikan konser rock underground di Bandung pasti takkan melupakan GOR Saparua yang terkenal hingga ke berbagai pelosok tanah air. Bagi band-band indie, venue ini laksana gedung keramat yang penuh daya magis. Band luar Bandung manapun kalau belum di `baptis' di sini belum afdhal rasanya. Artefak subkultur bawah tanah Bandung paling legendaris ini adalah saksi bisu digelarnya beberapa rock show fenomenal seperti Hullabaloo, Bandung Berisik hingga Bandung Underground. Jumlah penonton setiap acara-acara di atas tergolong spektakuler, antara 5000 – 7000 penonton! Tiket masuknya saja sampai diperjualbelikan dengan harga fantastis segala oleh para calo. Mungkin ini merupakan rekor tersendiri yang belum terpecahkan hingga saat ini di Indonesia untuk ukuran rock show underground.
Sempat dijuluki sebagai barometer rock underground di Indonesia, Bandung memang merupakan kota yang menawarkan sejuta gagasan-gagasan cerdas bagi kemajuan scene nasional. Booming distro yang melanda seluruh Indonesia saat ini juga dipelopori oleh kota ini. Keberhasilan menjual album indie hingga puluhan ribu keping yang dialami band Mocca juga berawal dari kota ini. Bahkan Burger Kill, band hardcore Indonesia yang pertama kali teken kontrak dengan major label, Sony Music Indonesia, juga dibesarkan di kota ini.
Belum lagi majalah Trolley (RIP) dan Ripple yang seakan menjadi reinkarnasi Aktuil di jaman sekarang, tetap loyal memberikan porsi terbesar liputannya bagi band-band indie lokal keren macam Koil, Kubik, Balcony, The Bahamas, Blind To See, Rocket Rockers, The Milo, Teenage Death Star, Komunal hingga The S.I.G.I.T. Coba cek webzine Bandung, Death Rock Star (www.deathrockstar.tk) untuk membuktikannya. Asli, kota yang satu ini memang nggak ada matinya
<noscript><a href="http://www.widgeo.net">widget</a></noscript>
<a href="http://www.widgeo.net"><img alt="widget" border="0" src="http://www.widgeo.net/img/logopm.png"></a></td></tr></table>